Posting Terbaru

Lintas Alam Bendungan Walahar - Jatiluhur


Satu hari menjelang lebaran, sebuah pesan singkat singgah di inbox hp-ku. "Kamis, 01 Sepetember 2011, saya dan kawan2 dari Bekasi mau gowes ke Jatiluhur via Walahar, mau ikut ga mas?" Ajak Pak Purwanto via sms. Saya pun minta waktu satu hari untuk menjawab ajakannya itu karena waktunya bertepatan dengan hari pertama saya masuk kerja setelah libur lebaran kemaren. Setelah kupikir-pikir dan mengatur ulang jawal kerjaku akhirnya kuputuskan ikut ajakannya pak Purwanto. Tak lupa saya pun mengajak temen saya "Asep" untuk ikut pada perjalanan itu. Rute yang kami tempuh di mulai dari Walahar, Surya Cipta, Tegal Danas, Tanjakkan Pacul, Goa Masigit, Kuta Tandingan dan Jatiluhur menjadi finish perjalanan kami.

Perjalanan dari Walahar menuju Jatiluhur via kawasan Surya Cipta mungkin menjadi sedikit melelahkan dan membuat kami harus bermandikan keringat. Karena, meskipun masih pagi, terik matahari pagi itu sudah mulai menunjukkan kegarangan mukanya. Kami yang berada di bawahnya seakan ingin ditaklukkannya. Panasnya begitu terasa langsung meresap di ubun-ubun kepala kami. Sesekali kami pun menepi mencari tempat yang teduh untuk beristirahat. Ketika memasuki wilayah Kuta Tandingan tepatnya di perbatasan Purwakarta - Karawang, dimana jalur yang menurun dan berlika-liku meminta untuk dicumbui.

Setelah enam jam mengayuh melintasi single trex di punggungan perbukitan, kami tiba di ujung sebelah barat bendungan Jatiluhur. Untuk menaklukkan rasa lapar, kami menepi sejenak di warungnya pak Bidin, Jatiluhur. Satu bakul nasi dan dua kilo ikan nila ditemani sambal + lalapan menjadi sasaran tembak rasa lapar kami. Itupun sehabis bersabar sejenak menunggu nasi yang baru ditanak matang. Sesekali terlontar guyonan di antara kami sekadar mengusir lapar dan lelah setelah menempuh perjalanan -/+95 km. Sesaat setelah makanan tiba, langsunglah kami “beraksi”. Nasi yang masih panas seakan tak terasa saat kami melahapnya. Entah karena lapar, atau kami yang lagi kesurupan, entah lah... yang penting perut kenyang.

SMP alias "Sudah Makan Pulang. Karena, hari sudah semakin sore, usai makan saya dan Asep langsung pamitan pulang duluan. Karena, rencananya pak Purwanto dan temen2 dari Bekasi pada mau nginep di warungnya pak Bidin. Mereka memang sudah biasa nginep di sana setiap bersepeda ke Jatiluhur. Tepat pukul 15.30 saya dan Asep meninggalkan ujung Jatiluhur dengan segala keindahan dan keteduhannya. Cikampek masih 50 km lagi. Mudah-mudahan dua piring nasi yang masuk dalam perut saya cukup sebagai bahan bakar kami berdua selama menempuh perjalanan pulang menuju Cikampek.


Bagi sebagian banyak orang, apa yang kami lakukan ini, mungkin dinilai kurang kerjaan atau buang-buang waktu. Itu sah-sah saja. Toh sejarah mencatat, esensi dari petualangan sangat sulit dipahami, bahkan hingga saat ini. Toh bagi kami, menjawab rasa penasaran, melintasi jalur perbatasan Purwakarta - Karawang, adalah petualangan tersendiri. Menuntaskan rasa penasaran atas dasar eksplorasi kepada hal-hal baru, adalah sesuatu yang manusiawi. Bisa jadi, rasa penasaran pula yang membuat Norman Edwin memberanikan diri menelusuri gua di seluruh penjuru Nusantara dan menjadi pelopor Speleologi (ilmu penelusuran goa) di Indonesia. Rasa penasaran juga membuat Don Hasman mencoba berjalan kaki sejauh 2.200.000 langkah dari Prancis menuju Spanyol selama 35 hari perjalanan.

Rasa penasaran memang bisa membawa kita ke hal-hal tak terduga. Siapa tahu, justru karena rasa ini, kami bisa menemukan lebih dalam lagi pesona nusantara ini. Entah dengan bersepeda, mendaki gunung atau apa saja.

Klik disini untuk lihat foto perjalanan selengkapnya!

0 komentar:

Posting Komentar


Pengikut

 

Sahabat Sepeda | Blognya Sahabat Sepeda Cikampek Copyright © 2011 -- Template created by O Pregador -- Powered by Blogger

Terima Kasih telah berkunjung di blognya Sahabat Sepeda Cikampek!