Posting Terbaru

Lintas Batas Bekasi - Bogor Di Jalur Jatiasih.


Pagi masih sunyi senyap. Sinar matahari pun belum menerangi jagad raya. Lampu-lampu jalan mulai meredup, bertanda pagi mulai merayap. Pagi itu saya segera mengayuh sepeda menuju pintu gerbang kawasan Kota Bukit Indah untuk memenuhi undangan dari teman2 Hino Cycling Community yang ngajak gowes ke jalur Jatiasih, di daerah perbatasan Bekasi - Bogor.

Sabtu, 01 Juni 2013
Sekitar pukul 7:00 wib kendaraan yang kami tumpangi pun mulai memasuki tol Cikampek menuju tol Jatiasih, Bekasi. Perjalanan pun berjalan lancar tanpa terjebak macet sehingga kurang dari 2 jam kami pun sudah tiba di lokasi start. Waktu menunjukan pukul 8:30 wib, kami pun segera bergegas merakit sepeda kembali. Usai berdoa sekitar jam 09:00 wib perjalanan gowes pun dimulai. Pagi itu Om Toto dari Cakra Bike Community menjadi Guide kami.


Menikmati keindahan alam sekitar saat bersepeda sangatlah menyenangkan, hembusan angin yang menerpa seolah membuai kita dalam kenyamanan yang memanjakan.Itulah yang saya rasakan saat bersepeda menyusuri jalur Jatiasih bersama Hino Cycling Community. Bersepeda menyusuri daerah perbukitan sambil sesekali meluncur diturunan jalan setapak di jalur Jatiasih memberi sensasi tersendiri.



Hari semakin siang, terik matahari di langit sudah berada di atas puncaknya. Matahari tak sungkan menunjukkan kegarangan mukanya. Kami yang berada di bawahnya seakan ingin ditaklukkannya. Sepeda kami kayuh kembali sampai pada akhirnya kami pun tiba di basecamp. Sebelum beranjak pulang, sejenak kami beristirahat di sini sambil mengisi perut kami yang sudah lapar.
Foto : http://cakrabike.blogspot.com
Inilah serunya sebuah perjalanan, selalu memiliki cerita dan kesan yang berbeda, begitu pula dengan perjalanan bersepeda kami ke jalur Jatiasih kemaren. Masing-masing punya cerita seru, selalu ada pelajaran baru yang didapat, dan kesan yang berbeda. Terima kasih buat komunitas Hino Cycling Community, yang sudah mengajak saya joint dalam perjalanan ini. Spesial thanks buat om Billy Ziaurrahman. Salam Gowes buat semua!



Mengayuh Pedal Hingga Waduk Cirata #3

Hal yang paling menyenangkan dalam hidup ini adalah saat santai, lepas dari aktivitas yang membosankan atau pekerjaan yang menimbulkan stress. Bersepeda tentu saja menjadi kegiatan alternatif yang saat ini banyak dilakukanorang-orang untuk melepaskan diri dari kebosanan.

Jika sedikit waktu dan biaya yang dimiliki, bersepeda cukup dilakukan tidak jauh dari tempat tinggal alias masih di seputaran PURWASUKA(Purwakarta, Subang, Karawang) saja. Sedikit ke arah Selatan dari Kota Cikampek, atau tepatnya di Kabupaten Purwakarta masih ada tempat asyik yang sampai saat ini masih menjadi tempat favorit untuk dikunjungi, yaitu Waduk Cirata.

Minggu, 31 Maret 2013 kemaren kembali kami mengayuh pedal ke Waduk Cirata. Rasa kangen akan nasi liwet dan indahnya jembatan besar yangmenjadi favorit para pengunjung ke Cirata, membawa kami kembali mengayuh pedal ke Waduk yang berpungsi sebagai Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) ini.


Foto : Dedi Kusmayadi

Waktu molor lebih dari 90 menit dari waktu yang sudah jadwalkan,sehingga tepat pukul 7:00 kami baru berangkat menuju Cirata. Dan tepat pukul 12:00 kami pun tiba di Waduk Cirata, terlambat 1 jam setengah dari jadwal yang ditargetkan. Bersyukur masih bisa sampai juga! Hahaaa…

Disepanjang  ruasjalan menuju Waduk Cirata terdapat warung-warung tradisional yang menyajikanberagam makanan. Yang paling khas dan mudah kita temui adalah Sate Maranggiyang berderet di sepanjang jalan. Kepulan asap pembakarannya begitu menggoda,seakan melambai siapa pun yang lewat agar mampir dan menikmatinya.Nasi liwetdan ikan bakar menjadi menu jagoan di tempat ini. Banyak warung yang menyajikanmenu special tersebut dengan makan bergaya lesehan.

Untuk menaklukkan rasa lapar, kami pun merapat di salah satu warung tradisional tersebut. Nasi liwet dan ikan bakar ditambah sambal + lalapan menjadi sasaran tembak rasa lapar kami saat itu. Membakar ikan dan memasak nasi liwet tentunya memerlukan waktu. Sambil menunggu sesekali terlontar guyonan di antara kami sekadar mengusir lapar dan lelah setelah menempuh perjalanan -/+ 60 km. Sesaat setelah makanan disajikan, kami pun langsung “beraksi”. Nasi yang masih panas seakan tak terasa saat kami melahapnya (mungkin efek karena lapar) heheee...


Foto : Dedi Kusmayadi

Puas menikmati panorama, menyantap kulinernya, kami pun kembali mengayuh pedal menuju pulang ke Cikampek. Salam Gowes!

Wisata Sejarah ke Situ dan Candi Cangkuang


Candi Cangkuang, di mana tuh? Mungkin bagi agan-agan yang belum tau pasti gak akan percaya kalo di Garut terdapat situs peninggalan purbakala yang sangat bersejarah.

Kemaren tepatnya sehari sebelum tulisan ini nongol di blog, gue maen ke Candi Cangkuang, Garut bareng temen yang slama ini gue kenal hanya di facebook (tau facebook kan? wah, kebangetan dah kalo kaga tau mah?! hahah...), Siti namanya. Dia berasal dari negeri Jiran Malaysia. Saat ini dia sedang mengambil kuliah S2 di Universitas Indonesia (UI) dan udah mau hampir selesai.

Tiga hari sebelum berangkat ke Garut dia sms gue, ngajakin gue maen kesana. Akhirnya gue bisa ketemu dia juga dan berangkatlah kita hari minggu kemaren tanggal 20 Mei 2012. Pas dapet insentif, pas ada yang ngajak maen, klop banget deh. Hehee...

Untuk menuju situ dan Candi Cangkuang agan-agan bisa mengambil rute dari arah Bandung atau Jakarta, bisa menggunakan mobil pribadi atau umum. Nah, sebelum Garut kota agan nanti akan ketemu dengan kecamatan Leles, ketika sampai di Leles ada sebuah papan petunjuk yang sangat jelas yang menunjukkan posisi Candi Cangkuang. Papan petunjuk itu posisinya berada tepat di depan alun-alun Kec. Leles. Dari alun-alun agan harus masuk lagi ke dalam sejauh kurang lebih 3 km, dengan jalan beraspal dapat dilalui oleh kendaraan baik roda dua maupun roda empat. Bagi agan-agan yang kesananya naik kendaraan umum (Bis), disana tersedia juga angkutan tradisional delman (andong) yang bisa mengantarkan agan ke situ Cangkuang dengan tarif Rp. 5000,-/orang.
Situ Cangkuang (Foto : Siti "Hamka Kecil")

Disepanjang perjalanan dari alun-alun ke desa Cangkuang kita akan melewati indahnya hamparan persawahan yang hijau, dan disekelilingnya kita akan melihat beberapa deretan gunung-gunung seperti di sebelah utara nampak Gunung Haruman, dan disebelah barat akan nampak Gunung Mandalawangi dan Gunung Guntur yang menjulang tinggi.
Gunung Haruman view Situ Cangkuang  (Foto : Siti "Hamka Kecil")


Untuk masuk ke lokasi Situ Cangkuang ini agan-agan akan dikenakan tiket sekitar Rp3000,-/orang. Dan untuk bisa melihat Candi Cangkuang ini agan-agan harus nyebrang dulu ke pulau menggunakan rakit-rakit yang berada di sekitaran situ Cangkuang dengan tarif Rp. 2000,-/orang, karena Candi ini posisinya berada di tengah-tengah situ Cangkuang.

Sebelum masuk ke area Candi Cangkuang, agan-agan nanti akan melewati sebuah pemukiman unik yang dinamakan dengan Kampung Pulo. Sebuah kampung kecil yang terdiri dari enam buah rumah dan kepala keluarga. Ketentuan ini harus ditepati, dan sudah merupakan ketentuan adat kalau jumlah rumah dan kepala keluarga itu harus enam.

Antusiasme Penggemar Sepeda Ikuti Lombok Audax 400 Kilometer








Peserta Event Lombok Audax menggotong sepedanya karena jalanan banjir akibat hujan deras yang mengguyur kota Mataram, Sabtu (1/4). Foto : Boy Slamet/Jawa Pos
Lombok Audax kembali digelar untuk kali ketiga mulai Sabtu (31/3) hingga kemarin (1/4). Kali ini lintasan yang disiapkan sejauh 400 kilometer mengelilingi separo Pulau Lombok. Wartawan Jawa Pos AGUNG PUTU ISKANDAR dan fotografer BOY SLAMETmelaporkan dari lokasi lomba.

AUDAX merupakan event sepeda yang berdiri di antara balapan dan fun bike. Peserta tidak mau event yang mereka ikuti disebut balapan karena mereka tidak beradu cepat menuju finis.

Tapi, mereka juga tidak mau disebut fun bike karena memiliki target untuk bisa menaklukkan medan yang menantang dan jarak tempuh yang jauh. Panitia menetapkan batas kecepatan minimal dan kecepatan maksimal yang harus ditaati peserta. "Audax lebih merupakan event sepeda untuk menguji ketahanan peserta," kata perancang Lombok Audax Axel Moeller.

Sejatinya, jalur yang ditempuh sepanjang 400 kilometer. Namun, karena jembatan di Kabupaten Lombok Timur putus karena banjir bandang, panitia mengubah rute dan jaraknya. Hari pertama berjarak tempuh 183 kilometer, sedangkan hari kedua dengan jarak 178 kilometer. Total peserta menempuh jarak 361 kilometer. Setiap peserta diberi batas kecepatan, yakni minimal 22,5 kilometer per jam dan maksimal 30 kilometer per jam.

Lombok Audax kali ini lebih ramai daripada penyelenggaraan sebelum-sebelumnya. Jika tahun lalu peserta kurang dari 100 orang, kali ini peserta membeludak hingga 380 orang. Bahkan, sampai last minute pendaftaran, masih banyak peserta yang ingin menjajal tantangan berat lintasan Pulau Lombok.

Gaung Lombok Audax kali ini memang heboh. Berita tentang event tahunan tersebut bahkan sampai ke Singapura dan beberapa negara lain. Karena itu, tak heran jika peserta tidak hanya didominasi pesepeda domestik. Ada juga yang datang dari Amerika Serikat, Italia, Singapura, dan Australia.

"Saya pernah mencoba Audax di Bintan. Terus, saya dengar ada di Lombok, makanya saya ingin mencoba tantangan ini," kata Choonwei Tay, bike fitting professional di Singapura.

Sejumlah tokoh ikut bergabung dengan para penggemar berat road bike tersebut. Di antaranya, Dirut Garuda Indonesia Emirsyah Satar, Direktur Business Banking Bank Nasional Indonesia (BNI) Krisna Suparto, pengacara Partahi Simbolon, dan Emil Arifin, anak almarhum Menteri Koperasi Bustanil Arifin.

Krisna Suparto tidak berangkat seorang diri. Dia mengajak sejumlah jajarannya untuk ikut gowes jarak jauh itu. Bahkan, dia mengajak ajudannya untuk mengawal perjalanannya dengan mobil pribadi. Satu unit mobil dinas BNI juga ikut mengawal sang bos.

Sementara itu, Emirsyah rencananya baru ikut gowes hari ini (1/4). "Pak Emir kayaknya tidak mau ngoyo. Dia gowes sekaligus wisata kuliner besok itu," kata Anto Harbriyanto, rekan Emirsyah di komunitas sepeda Apache Bikers, lantas tersenyum.

Apache Bikers merupakan komunitas pesepeda yang dipimpin Emirsyah. Dalam Lombok Audax, komunitas yang bermarkas di Cibubur itu ingin turun dengan nama Apache. Namun, agar lebih spesifik beranggota para penggemar road bike, mereka mengusung nama baru: Roadies. "Padahal, isinya juga orang-orang Apache," kata Anto.

Di Lombok Audax, Roadies membawa 65 anggota rombongan. Lima belas orang di antaranya membuat acara dan jalur sendiri di luar Audax. Sisanya mengikuti semua event sampai tuntas.

Anto menuturkan, untuk mengikuti event tersebut, Roadies menyiapkan selama tiga bulan sebelumnya. Setiap Selasa dan Kamis mereka menggowes sepeda di berbagai lintasan. Mulai Taman Mini Indonesia Indah (TMII) di Jakarta Timur hingga ke Sirkuit Sentul.

Pada hari-hari tertentu, mereka menyewa sirkuit tersebut bersama anggota lain agar bisa menggenjot sepeda dengan kecepatan konstan tanpa terganggu kemacetan lalu lintas serta jalan rusak. "Jangan sampai ketika di sini kita loyo," ujarnya.

Antusiasme peserta memang beralasan. Sebab, bukan hanya jarak yang lumayan jauh, kondisi medan di Pulau Lombok juga benar-benar menantang. Hanya beberapa meter dari garis start di Hotel Holiday Resort, Pantai Senggigi, peserta sudah diajak menanjak dengan kemiringan hingga 45 derajat sepanjang lebih dari 3 kilometer. Setelah itu, mereka langsung meluncur di turunan curam. Model lintasan tersebut terus berulang hingga empat kali.

Para peserta juga menelusuri lintasan pinggir pantai-pantai cantik di Lombok. Mulai Lombok Barat hingga Lombok Utara. Altitude alias ketinggian lintasan juga terus bervariasi. Jika di Lombok Barat dan Lombok Utara menyisir pantai di dataran rendah, jalur menjelang Lombok Timur terus menanjak naik ke dataran tinggi. Sebab, jalanan tersebut mengarah ke arah pendakian Gunung Rinjani.

Jalur menjelang Lombok Timur adalah jalur yang paling "menyiksa". Kontur daratan terus naik, kemudian menukik tajam menurun. Tanjakan memanjang hingga 10 kilometer. "Tanjakan di situ memang terkenal. Tanjakan tajam kemudian menukik turun. Ini seperti roller coaster," kata Axel Moeller.

Seluruh peserta penuh semangat menggenjot road bike. Saking semangatnya, rantai sepeda milik Ketua Surabaya Road Bike Community (SRBC) Teddy Moelijono sampai putus. Tapi, Teddy tidak menyerah. Dia memperbaikinya sendiri hingga bisa bablas sampai finis.

"Saya terlalu bersemangat. Mestinya harus diatur dulu semangatnya," ungkap Teddy yang berangkat bersama 12 anggota SRBC.
Meski begitu, sebagian besar peserta mengeluhkan kinerja panitia. Tidak banyak kru yang dilibatkan di lapangan.

Akibatnya, ketika banyak peserta yang memerlukan pertolongan, tidak ada yang membantu. Apalagi, di sejumlah tikungan terdapat pasir lembut yang membuat peserta berjatuhan karena terpeleset.

Meski kebanyakan jalannya mulus, ada pula rute yang jalannya rusak. Bahkan, di kawasan Pawenang, jalur aspal mulus itu sempat terputus dengan jalur kerikil sepanjang 3 kilometer. "Untung bannya tidak meletus di situ," ungkap Anto Harbriyanto.

Antusiasme juga dirasakan Amedeo Paroldo. Pesepeda asal Italia itu merupakan peserta tertua. Usianya 74 tahun. Tapi, dia tetap bersemangat melahap seluruh rute Audax. Bagi dia, bersepeda sudah menjadi bagian dari hidup, selain olahraga layar yang digemari.

Pada hari pertama kemarin, pria sepuh yang akrab dipanggil Amedeo tersebut tidak terlihat mengeluh. Teknik bersepeda yang dia tunjukkan juga tak kalah oleh mereka yang masih muda. Bahkan, dalam setiap tanjakan, Amedeo hampir tidak pernah turun dari sepeda.

"Orang sudah tua seperti saya, apa lagi yang harus dikejar. Yang penting kita lakukan semuanya sampai finis," katanya bersemangat.

Saat muda, Amedeo merupakan atlet nasional cabang layar. Dia menjadi wakil Italia pada kurun 1980"1995 di berbagai kejuaraan perahu layar internasional. Dia beberapa kali ikut olimpiade mewakili negaranya. Setelah sukses meraih beberapa gelar, Amedeo lantas ke Indonesia untuk menekuni olahraga bersepeda selain berbisnis.

Dia sehari-hari tinggal di Lombok dan Bali. Di Lombok, dia masih menyimpan perahu layar kecil untuk keperluannya bila sewaktu-waktu ingin pergi ke Bali via laut. Dia sangat gembira bahwa Lombok akhirnya memiliki event Audax. Sebab, olahraga paling cocok di Lombok adalah bersepeda karena jalan-jalannya sangat mulus dan masih sepi.

Lelaki kelahiran Venesia itu mengaku rutin berlatih untuk menghadapi Lombok Audax. Meski sudah berumur, tidak berarti standar bersepeda dirinya harus diturunkan. Sebelumnya, Amedeo juga ikut event sepeda di Bintan dan Bali.

"Untunglah saya menekuni sepeda pada usia 40 tahun. Saya punya banyak waktu untuk belajar. Untung juga saya menekuninya di Indonesia. Banyak waktu, tempat, dan pemandangan yang indah. Saya mencintai negeri ini melebihi negara saya," tegasnya.

Sumber : www.jpnn.com


Naik Sepeda dan Becak Jadi Program Rutin PNS Sumenep


Naik sepeda ontel atau becak akan menjadi program rutin yang wajib dilaksanakan pegawai negeri sipil (PNS) di lingkungan Pemerintah Kabupaten Sumenep,Jawa Timur.

Aksi ini langsung dipelopori Bupati A Busyro Karim dan wakilnya, Sungkono Sidik,kemarin. ”Selain bagian dari gerakan penghematan penggunaan bahan bakar minyak (BBM), program ini untuk berbagi rezeki dengan para tukang becak,”kata Busyro. Busyro naik becak dari rumah dinasnya di Jalan Sudirman ke Kantor Bupati Sumenep di Jalan Cipto, dikawal sejumlah anggota Satuan Polisi Pamong Praja dengan sepeda.Begitu juga dengan Sidik.Jika pada biasanya mereka naik mobil dinas ke kantor,kini menggunakan sepeda atau becak. ”Semakin banyak PNS yang naik becak, berarti penghasilan para tukang becak akan meningkat,” ujarnya.

Program naik sepeda dan becak bagi PNS di lingkungan Pemkab Sumenep wajib dilakukan minimal dua kali dalam sebulan,yakni awal dan pertengahan bulan. “Semoga program yang kami gagas itu benar-benar dilaksanakan oleh jajaran kami,dan secara otomatis akan mengurangi penggunaan BBM di kalangan PNS,” terangnya. Pagi kemarin, Busyro juga jalan kaki dari kantornya untuk menghadiri kegiatan di Kantor Dinas Pendidikan Sumenep.

Sementara Sungkono dan Sekretaris Kabupaten Sumenep M Saleh, naik becak dari kantornya guna menghadiri acara di salah satu hotel setempat. “Semoga apa yang kami lakukan menghemat penggunaan BBM bisa diikuti warga dan selanjutnya menjadi gerakan massal,”tambah Sungkono. 

ANTARA
Sumenep 


Ada kesalahan di dalam gadget ini
Ada kesalahan di dalam gadget ini

Pengikut

 

Sahabat Sepeda | Blognya Sahabat Sepeda Cikampek Copyright © 2011 -- Template created by O Pregador -- Powered by Blogger

Terima Kasih telah berkunjung di blognya Sahabat Sepeda Cikampek!